sharpnel_content
Viral Alun-alun Utara Dijual, Inilah Fakta Lahan Metaverse!

News 13 Jan 2022


Viral Alun-alun Utara Dijual, Inilah Fakta Lahan Metaverse!

Share

Selama sepekan terakhir, warga Yogyakarta digegerkan dengan berita Alun-alun Utara, Kepatihan, dan Gedung Agung yang dijual di metaverse. Masyarakat yang notabene masih awam tentang metaverse pun ikut adu urat. Bagaimana mungkin lahan dapat dijual secara virtual di situs Next Earth dan Earth 2?

Lalu, siapakah yang berani menjual kawasan yang sarat akan sejarah Kesultanan Yogyakarta ini? Sebelum Anda terburu-buru mengambil kesimpulan, yuk cari tahu dulu tentang fakta lahan metaverse. 

 

Pengertian Metaverse dan Sejarahnya

Apa itu metaverse? Metaverse adalah dunia virtual 3D yang diviralkan CEO Meta Platforms Inc. (sebelumnya bernama Facebook Inc.) yaitu Mack Zuckerberg. Setelah itu, metaverse pun menjadi buzzer word yang dibahas di mana-mana. Sebenarnya, Zuck bukanlah orang pertama yang mengenalkan istilah metaverse, lho. 

Menurut catatan, Neal Stephenson adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah ini pada tahun 1992 silam melalui novel “Snow Crash”. Istilah ini pun baru viral setelah Zuck mempresentasikan rencananya untuk membangun dunia fantasi metaverse. 

Bersama dengan Meta Platforms Inc., Zuck berencana untuk membangun dunia fantasi metaverse yang dihuni oleh avatar manusia sungguhan. Tidak berhenti pada manusia, Anda pun akan menemukan “tiruan” suatu kawasan dan bangunan di dunia nyata. 

Dengan demikian, avatar manusia pun dapat beraktivitas, menonton konser, shopping, sampai menjadi investor lahan metaverse. Dari sinilah akar masalah dari penjualan Alun-alun Utara, Kepatihan, dan Gedung Agung mungkin akan tercipta.

Bagaimana Hak Kepemilikan Lahan Metaverse? 

Namun, ada satu fakta penting yang perlu dicatat oleh para investor metaverse. Meskipun Anda sudah membeli properti atau lahan di metaverse, bukan berarti bangunan fisik di dunia nyata menjadi milik Anda, lho. Boleh saja Anda membeli Alun-alun Utara di metaverse, tetapi kawasan fisik secara sah masih menjadi milik Pemda dan Keraton Yogyakarta. 

Jadi, Pemda pun meminta masyarakat untuk tidak bereaksi berlebihan terkait berita penjualan ini. Sampai saat ini, kasus ini belum memicu permasalahan. 

Namun, apakah kondisi ini akan tetap sama 5-10 tahun ke depan?

Apabila tidak ada regulasi transaksi metaverse yang jelas, ada kemungkinan lahan virtual ini akan menjadi sengketa dan disalahgunakan pada masa mendatang. Contohnya, Alun-alun Utara dijual secara virtual ke investor A. 

Jika Pemda atau Keraton Yogyakarta berencana untuk menggelar event virtual, mereka pun harus membayar ke investor A karena tidak memiliki hak milik lahan virtual. Bukankah kondisi ini cukup ironis? 

Tidak berhenti di situ saja. Apabila Alun-alun Utara disalahgunakan secara virtual, pemilik lahan fisik juga tidak bisa berbuat banyak, lho. 

Maka dari itu, jual-beli di metaverse harus diikuti dengan penyusunan regulasi yang jelas sedari awal. Jangan sampai lahan metaverse sudah telanjur booming, tetapi regulasinya baru akan dibuat. Bukannya membantu manusia, dunia metaverse pun membuat pemilik lahan fisik sakit kepala. 

Oleh sebab itu, mari kita tunggu bagaimana langkah pemerintah dalam mengantisipasi permasalahan ini. Dengan begitu, Anda dapat melakukan investasi lahan metaverse dengan tenang.

 

Darimana Keuntungan Investasi Metaverse Berasal? 

Setelah memutuskan untuk berinvestasi di lahan metaverse, apakah keuntungan yang Anda dapat? Sedikit berbeda dengan investasi fisik, investasi virtual ini akan lebih mudah untuk meraup untung dan modalnya tak banyak. Berikut ini alasannya! 

a. Mudah Mendapatkan Penyewa 

Saat memiliki properti di metaverse, Anda pun dapat menyewakannya kembali. Anda akan mendapatkan pemasukan rutin dari uang sewa tenant. Keuntungan lainnya, Anda dapat menemukan tenant dengan mudah karena lahan metaverse dapat diakses secara virtual, tak peduli dari mana tentant berasal. 

Sebagai contoh, Anda membeli lahan metaverse Alun-alun Utara. Lalu, lahan ini dijadikan tempat untuk pameran seni secara virtual. Anda pun akan mendapatkan uang sewa dari peminjaman Alun-alun Utara ini. 

Bayangkan juga apabila acara Sekaten bakal digelar secara virtual.  Anda pun dapat menyewakan kawasan ini ke beberapa tenant sekaligus! 

Dengan kemudahan mencari penyewa, properti Anda tidak akan terlalu lama menganggur. Anda pun bisa segera mendapatkan keuntungan tak lama setelah membeli lahan metaverse strategis. 

b. Kemudahan Konstruksi tanpa Regulasi yang Ribet

Salah satu keuntungan dari dunia metaverse adalah Anda dapat menciptakan dunia tanpa batas. Anda dapat membangun bangunan sekreatif dan seimajinatif mungkin tanpa harus menguras kantong. 

Satu lagi, Anda tidak perlu berurusan dengan inspeksi dari pihak terkait karena telah membangun properti yang tidak sesuai standar. Jika bangunan di dunia nyata harus sesuai regulasi, bangunan di metaverse tak ada batasannya. 

Bagaimana Peluang Investasi Lahan Metaverse di Indonesia? 

Sembari menunggu regulasi, tidak ada salahnya untuk mulai mencari-cari lahan virtual yang bisa Anda beli, lho. Sebagai catatan, transaksi di metaverse menggunakan mata uang crypto USD Tetra. 

Menarik untuk diketahui, tiap-tiap lahan virtual yang viral di atas dijual oleh akun Yofhiant dengan harga murah-meriah. Alun-alun Utara dijual seharga 1,4 USDT. Sementara itu Kepatihan dan Gedung Agung ditawarkan seharga 17,39 USDT dan 32,9 USDT. Tak bisa dimungkiri, lahan virtual bersejarah ini adalah investasi metaverse yang menjanjikan. 

Selain lahan bersejarah, Anda juga dapat melihat-lihat lahan strategis lainnya di earth2.io. Yakin, Anda tidak ingin investasi lahan metaverse? 

 

Referensi: 

  1. Ccnnindonesia.com
  2. Cnbcindonesia.com 
  3. Inibaru.id

Business vector created by vectorpocket – www.freepik.com

Browse blog by tag

Back To Top