sharpnel_content
UGM Kembangkan Sistem Berbasis IoT untuk Deteksi Gempa 3 Hari Sebelumnya!

News 08 Okt 2020


UGM Kembangkan Sistem Berbasis IoT untuk Deteksi Gempa 3 Hari Sebelumnya!

Share

Tak bisa dimungkiri, masyarakat Indonesia memang hidup di tengah ancaman bencana. Tidak sekadar ancaman gunung meletus, bencana gempa bumi pun turut mengintai. Berbeda dengan cuaca, datangnya gempa bumi sulit sekali diprediksi. Karena alasan ini, bencana gempa bumi memberikan dampak yang lebih dahsyat. Namun, kondisi ini akan segera berubah karena tim peneliti UGM tengah mengembangkan sistem EWS. EWS adalah sistem berbasis IoT yang sanggup memprediksi datangnya gempa 3 hari sebelumnya.

Prof Ir Sunarno M Eng Ph D, Ketua Tim Riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM menyampaikan detail waktu prediksi EWS. Menurutnya, sistem ini dirancang untuk dapat mendeteksi datangnya gempa dalam durasi 1-3 hari. 

Khusus untuk gempa dengan kecepatan 6 SR, sistem ini dapat memprediksi hingga 2 minggu sebelumnya. Selain memprediksi terjadinya gempa, sistem ini juga dapat mengirim peringatan gempa yang akan terjadi di area Sabang sampai Nusa Tenggara Timur.

Cara Kerja Pendeteksi Gempa EWS

Bagaimana  cara kerja sistem EWS? Tim peneliti ini menggunakan teknologi IoT untuk memprediksi datangnya gempa lebih cepat. Total ada lima stasiun yang tersebar di DIY untuk mendeteksi terjadinya gempa. Sistem ini akan mengirim data ke server melalui IoT dalam kurun waktu 5 detik sekali.

Untuk merumuskan algoritmanya, tim ini melakukan pengamatan konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa. Data ini pun diolah menjadi satu algoritma pendeteksi gempa. Sebagai informasi, jumlah gas randon akan meningkat sesaat sebelum gempa terjadi.

Oleh sebab itu, peningkatan gas randon ini bisa dijadikan patokan untuk memprediksi datangnya gempa. Selain itu, peneliti juga mengecek level air tanah. Jika gempa akan terjadi, air tanah akan naik-turun secara signifikan.

Kedua data ini akan diolah algoritma EWS yang nantinya akan mengirimkan hasilnya berupa notifikasi di smartphone peneliti. Sampai saat ini, EWS sudah dapat memprediksi dua atau 3 hari sebelum gempa terjadi. Selain IoT, sistem ini juga menggunakan komponen lain, seperti pengkondisi sinyal, detektor perubahan level air tanah dan gas radon, penyimpan data, sumber daya listrik, dan kontroler.

Beberapa gempa yang berhasil diprediksi sistem ini, yaitu gempa di Barat Daya Bengkulu M5,1 (29 Agustus 2020), Barat Daya Pacitan M5,1 (10 September 2020), Tenggara Naganraya-Aceh M5,4 (14 September 2020), dan lainnya.

Sistem ini pun akan terus dikembangkan hingga memiliki hasil yang lebih akurat untuk waktu, koordinat episentrum gempa, dan magnitudo gempa. Sistem berbasis IoT ini bisa menjadi sebuah harapan bagi bangsa ini dalam menghadapi gempa megathrust yang kabarnya akan terjadi di pantai selatan Jawa. Dengan demikian, pemerintah bersama-sama dengan masyarakat dapat melakukan langkah persiapan, evakuasi, dan penanggulangan secara cepat dan tepat. 

 

 

Sumber: ugm.ac.id 

Photo by Zan on Unsplash

 

Browse blog by tag

Back To Top