sharpnel_content
Review “Downfall: The Case Against Boeing”, Teori Pagar Makan Tanaman?

News 09 Apr 2022


Review “Downfall: The Case Against Boeing”, Teori Pagar Makan Tanaman?

Share

If it ain’t Boeing, I ain’t flying” menjadi bukti keperkasaan Boeing di angkasa. Guyonan ini lahir dari rasa bangga pilot Amerika akan tingginya tingkat keamanan dan keselamatan pesawat buatan Boeing. Setelah beberapa dekade mendominasi, tak ada satupun yang menyangka bahwa masa kejatuhan Boeing akan tiba. Boeing pun dipaksa turun tahta setelah dua pesawat barunya Boeing 737 MAX jatuh mencium bumi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Boeing? 

Melalui film dokumenter “Downfall: The Case Against Boeing”, Netflix berusaha menguak tabir misteri jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX. Inilah tragedi yang membuat Boeing jatuh menukik dari puncak kejayaannya.

Plot twist, setelah 20 bulan dikandangkan karena tragedi ini, Boeing 737 MAX akhirnya diizinkan Federal Aviation Administration (FAA) untuk kembali mengudara pada 18 November 2020 silam. 

Kembalinya Boeing 737 MAX ini disambut dengan perilisan dokumenter Netflix yang secara berani membuka luka lama Boeing. Kini, masalah bukan lagi pada benar atau tidaknya narasi Netflix.

Namun, apakah kita dapat sekali lagi mempertaruhkan nyawa kita dengan membiarkan Boeing 737 MAX berkeliaran di udara? Tidak ada jaminan kalau Anda tidak akan bepergian dengan Boeing 737 MAX pada masa mendatang. 

(Un)Expected, Inilah Biang Kerok Jatuhnya Boeing 737 MAX 


Pada tahun 2018, pesawat Lion Air JT 610 mengalami kecelakaan di Laut Jawa setelah 13 menit take off. Pada awal jatuhnya Boeing JT 610, Boeing mengindikasikan kecelakaan terjadi karena kurangnya kecakapan pilot. Boeing mengklaim hasilnya mungkin akan berbeda jika kondisi ini dihadapi pilot made in America.  

Narasi ini tentu terdengar masuk akal. Mengapa? Pasalnya, Boeing 737 MAX adalah pesawat yang baru dimiliki Lion tiga bulan sebelumnya. Dengan kata lain, risiko kerusakan mesin sangatlah rendah. Berbeda cerita kalau Lion Air JT 610 adalah pesawat tua. Kemungkinan risiko kerusakan mesin tidak bisa terelakkan. 

Kondisi ini membuat banyak orang mempertanyakan kualifikasi pilot di Asia yang dinilai kalah saing dari pilot cetakan Amerika. Namun, Garima Sethi, istri pilot Lion Air JT 610 Bhavye Suneja, menepis teori ini. Menurutnya, suaminya adalah pilot dengan kualifikasi yang sudah diakui. Faktanya, Bhavye belajar penerbangan di Negeri Paman Sam. 

“I wouldn’t say it was racist, but I actually remember a point, where they spoke about my husband’s qualifications, they wanted to know where he completed his flight training, in fact, he finished his training in the US.”

Sayangnya, pengaruh Boeing kala itu masih sangat kuat. Dengan jaminan keselamatan yang dipertahankan bertahun-tahun, rasanya mustahil apabila Boeing adalah biang keroknya. 

Pada 10 Maret 2019 atau baru lima bulan berselang, Ethiopian Airlines Flight 302 melakukan nosedive hingga menyentuh bumi 6 menit setelah meninggalkan runway atau 40 mil saja dari bandara. Dua kejadian yang terjadi dalam waktu yang dekat dan membuat 346 nyawa melayang ini pun mengubah pandangan orang-orang pada Boeing. 

Jika dua pesawat baru dengan tipe yang sama jatuh dengan cara yang sama pula, apakah mungkin masih kebetulan saja? 

Bagaimana kalau ternyata Boeing 737 MAX-lah yang bermasalah? 

Setelah menerima desakan dari segala penjuru dan penyelidikan digelar, Boeing pun akhirnya menguak koreng dari produk teranyarnya. Apa itu? The Maneuvering Characteristic Augmentation System atau MCAS. 

 

Apa Itu MCAS? 

MCAS adalah sistem otomasi yang berfungsi sebagai stabilisator pesawat saat melakukan manuver berbahaya. Ketika pesawat berpotensi stall (moncong pesawat terlalu ke atas), MCAS akan beroperasi secara otomatis untuk menurunkan moncong pesawat. Tujuan pengembangan MCAS sangatlah jelas yaitu untuk memastikan keamanan dan keselamatan pesawat. 

Bagaikan dua mata pisau, MCAS ini akan menjadi sangat berbahaya apabila beroperasi secara keliru. Dan inilah apa yang terjadi pada Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines Flight 302. Saat MCAS menyala, pilot tidak tahu apa yang harus dilakukan karena memang belum ada pelatihan. Alih-alih melindungi, MCAS berusaha mencelakai manusia dengan mendorong moncong pesawat ke posisi nosedive.  

Ironisnya, sebelumnya Lion Air sudah mencoba mengkonfirmasi ke Boeing apakah pesawat ini tidak membutuhkan pelatihan pilot sama sekali. Bagaimanakah tanggapan Boeing? Dalam dokumenter ini ditampilkan bagaimana pertanyaan ini terlihat begitu bodoh di mata Boeing. 

 

Lalu, Mengapa Semua Ini Bisa Terjadi? 

MCAS mungkin saja tidak mengancam nyawa jikalau para pilot tahu apa yang mereka hadapi. Dalam laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi, pilot Lion Air membutuhkan waktu 8 detik untuk bereaksi akan adanya malfungsi MCAS. Padahal, FAA Amerika memprediksi seharusnya pilot dapat bereaksi selama 3 detik saja. 

Masalahnya, Boeing secara sengaja menyembunyikan eksistensi MCAS. Artinya, para pilot menerbangkan 737 MAX tanpa mengetahui ada bom waktu yang di dalamnya. Mereka belum dilatih untuk mengatasi malfungsi dan mematikan MCAS jika dibutuhkan. 

Mengapa Boeing mengambil keputusan seekstrem ini? 

Boeing yang tengah berada di medan pertempuran bisnis dengan Airbus merasa tertekan dengan pengembangan pesawat Airbus A320neo yang unggul dari efisiensi bahan bakar. Awalnya Boeing sama sekali tidak terusik dengan pengembangan Airbus. 

Kondisi ini berubah drastis, ketika Boeing mencium bau-bau pembelian 100 pesawat baru American Airlines ke Airbus. Penting untuk dicatat, American Airlines adalah klien eksklusif Boeing lebih dari 10 tahun. 

Sebelum American Airlines pindah ke lain hati, Boeing mengide pembuatan Boeing 737 MAX hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Boeing membuang rencana pembuatan pesawat baru yang membutuhkan waktu sangat lama. Upgrade pesawat lama pun menjadi pilihan untuk mengejar ketertinggalan. Pesawat Boeing 737 MAX pun lahir dari rasa frustasi dan tekanan persaingan.  

Jika harus mengembangkan pesawat yang benar-benar baru, Boeing tidak akan sanggup mengejar Airbus. Alhasil, mereka pun melakukan modifikasi pada pesawat lama Boeing 737. 

Meskipun hasil modifikasi, 737 MAX ternyata tidak kalah saing dari Airbus A320neo. Pesawat ini cukup ekonomis dan efisien. Ini dia beberapa fitur baru yang ditanam pada 737 MAX. 

  1. Hemat bahan bakar sehingga maskapai dapat melakukan penghematan biaya operasional. 
  2. Maskapai tidak perlu mengeluarkan budget untuk pelatihan pilot. Menurut Boeing, cara kerja 737 MAX sama dengan pesawat Boeing tipe pendahulunya yaitu 737 series.

Karena iming-iming ini, maskapai di dunia begitu tergiur untuk meminang 737 MAX. Boeing pun berhasil mencetak sejarah penjualan pesawat dan 737 MAX menjadi penjualan terbesar Boeing. 

Akan tetapi, pencapaian Boeing ini bukan tanpa risiko. Meski 737 MAX adalah modifikasi, secara “diam-diam” Boeing menambahkan sistem yang sama sekali baru. Kenapa MCAS harus ditambahkan? 

 

Latar Belakang Dipakainya MCAS

Untuk bisa membuat pesawat lebih ekonomis dan efisien, insinyur Boeing harus memasang turbin yang lebih besar dari ukuran yang direkomendasikan. Penggunaan turbin ini tentunya tidak seimbang dengan desain pesawat yang sudah ada. Turbin ini pun cenderung membuat pesawat ke posisi stall

Untuk mengakalinya, MCAS pun ditanam pada bagian ekor pesawat dan attack sensor di bagian depan pesawat. Kalau turbin memaksa pesawat ke posisi stall, MCAS akan menstabilkan pesawat dengan menurunkan moncong pesawat ke posisi semula.

Meskipun pesawat memiliki banyak AOA sensor, ternyata hanya satu saja yang terhubung dengan MCAS. Akibatnya, informasi yang diterima MCAS bisa saja keliru atau tidak akurat sehingga dapat menyebabkan malfungsi. 

Masalah pun muncul setelah MCAS ditanam pada 737 MAX. Pilot penguji Boeing menemukan kejanggalan pada 737 MAX. Pada laporan yang baru terkuak setelah penyelidikan, sang pilot menggambarkan MCAS sebagai “malapetaka”. 

MCAS sebenarnya dapat diatasi, tetapi membutuhkan pelatihan pilot yang intens. Dengan begitu, adopsi MCAS ini sama saja meningkatkan budget maskapai untuk pelatihan pilot. Padahal, manajemen Boeing sudah mewanti-wanti agar pesawat barunya harus ramah kantong, tetapi tetap kompetitif. 

Mengingat biaya pelatihan pilot sangat besar dan menjadi pengeluaran terbesar maskapai, Boeing khawatir kebutuhan pelatihan ini akan membuat 737 MAX kalah saing dari Airbus A320neo. 

Bukannya mengatasinya, Boeing mengubur dalam-dalam masalah MCAS. Boeing menghubungi FAA dan meminta penghapusan MCAS dari manual Boeing 737 MAX. MCAS hanya dituliskan pada bagian singkatan. 

Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga. Boeing harus mengakui kepada dunia bahwa MCAS adalah sumber masalah dari segala masalah.

Inilah sumber api yang membumihanguskan dominasi Boeing. Si raja langit pun bertransformasi menjadi peti mati yang melayang-layang di udara. 

 

Apa Pesan yang Bisa Diambil dari Downfall: The Case Against Boeing?

Selain memperjuangkan keadilan bagi para korban jatuhnya Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines Flight 302, ada satu pesan yang ingin Netflix sampaikan dalam dokumenter ini. Boeing yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Amerika sebagai produsen pesawat terbaik di dunia sejak tahun 1916, kini telah berubah. Boeing yang awalnya berorientasi pada keselamatan penumpang akhirnya takluk pada manisnya godaan kapitalisme. 

Kejadian ini bukanlah yang pertama. Jika kita menilik sejarah, banyak sekali tragedi teknologi terjadi karena kelalaian hingga keserakahan manusia. Ketika pengambil keputusan bukanlah orang yang terlibat langsung dengan pengembangan produk, teknologi bisa menjadi sangat berbahaya.

Sebut saja tragedi Pesawat Ulang-alik Challenger, RMS Titanic hingga Teater Iroquois, semuanya terjadi karena kelalaian manusia. Sejarah mencatat banyak kecelakaan terjadi karena suatu produk yang belum siap atau sempurna tetap dirilis karena paksaan manajemen.  

Mungkin, eksekutif Boeing harus lebih banyak membaca buku sejarah sebelum berpikir terlalu jauh untuk melipatgandakan profit. Pasalnya, insinyur Boeing sudah mengutarakan kekhawatiran akan bahaya MCAS. Namun, manajemen bergeming. 

Demi memenangkan dominasi dan meraup keuntungan yang lebih banyak, Boeing kehilangan sentuhannya. Kini, taglineIf ain’t Boeing, I ain’t Going” telah dipelintir menjadi “If it’s Boeing, I ain’t Going”. Jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX diikuti dengan jatuhnya citra Boeing untuk selama-lamanya. Segala jalan instan yang menumbalkan nyawa manusia di dalamnya tidak akan pernah berakhir dengan happy-ending.

Kita pun sebagai rakyat biasa dapat belajar banyak dari kasus Boeing. Selain kecerdasan, sikap bijaksana sangat dibutuhkan saat bersentuhan dengan teknologi. 

Tidak peduli seberapa cerdas dan canggihnya teknologi yang Anda ciptakan, pastikan kaki Anda tetap menjejak tanah. Selama masih buatan manusia, teknologi bisa berkhianat di detik-detik terakhir dan menjadi malapetaka. 

Teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia. Jangan sampai idealisme ini membuat kita malah menciptakan teknologi pagar makan tanaman. Teknologi yang berkamuflase menjadi pelindung, tetapi berakhir dengan mencelakakan si pembuatnya.   

 

Referensi: 

  1. Nytimes.com
  2. Knkt.dephub.go.id
  3. Cnet.com

Photo by Sam Willis from Pexels

Browse blog by tag

Back To Top