sharpnel_content
Corona Paksa Pekerja Jepang untuk Beralih dari Mesin Faks

News 30 Jul 2020


Corona Paksa Pekerja Jepang untuk Beralih dari Mesin Faks

Share

Selama ini, masyarakat Jepang memang hidup di tengah-tengah ironi. Meskipun negara ini sudah mencetak lusinan teknologi baru yang canggih, Jepang begitu sulit melepaskan obsesinya pada mesin faks.  Hal ini menunjukkan betapa konservatifnya beberapa perusahaan Jepang karena mempertahankan cara tradisional dalam menjalankan bisnis. Namun, COVID-19 atau Virus Corona pun berhasil ‘memaksa’ pekerja Jepang untuk beralih dari mesin faks ke teknologi digital.

Saat dunia memakai berbagai tools canggih untuk komunikasi, beberapa perusahaan Jepang masih menggunakan mesin faks yang kurang praktis dan fleksibel. Lalu, saat akan menandatangani suatu dokumen perjanjian atau persetujuan, mereka memakai stempel resmi perusahaan (hanko) untuk mengukuhkan legalitas dokumen. 

Dengan adanya pandemi, kedua cara tradisional ini sudah tidak bisa diandalkan. Mereka pun memiliki alasan untuk mengadopsi teknologi baru yang modern dan mengeliminasi teknologi lawas yang lahir pada era 80-an. 

Mengapa Perusahaan Jepang Setia Memakai Mesin Faks? 

Ada satu alasan khusus mengapa perusahaan Jepang sulit beralih dari mesin faks. Pasalnya, mesin faks dinilai sebagai media komunikasi paling aman dibandingkan digital tools. Orang-orang dengan usia 50 sampai 60 tahun memiliki stereotip yang buruk tentang internet. Misalnya, internet rawan peretasan, data bocor, data hilang, dan lainnya. Sederhananya, keberadaan dokumen fisik akan membuat mereka lebih tenang dalam menjalankan bisnis. Namun, saat adanya pandemi, pekerja Jepang pun mau tak mau harus memakai teknologi digital karena harus bekerja dari rumah.

Selain COVID-19, perubahan budaya kerja ini juga dipengaruhi oleh pekerja dari generasi lama yang sudah pensiun. Generasi muda yang sudah terbiasa dengan teknologi mulai mengambil alih perusahaan. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa pandemi COVID-19 membuat perubahan budaya ini terjadi lebih cepat dibandingkan harus menunggu semua generasi lama pensiun. 

Sebenarnya, budaya kerja dengan memakai mesin faks ini sudah mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Teranyar, seorang dokter menyuarakan kritik kerasnya pada sistem pelaporan COVID-19 di rumah sakit dan klinik di Jepang. Mengapa dikritik? Usut punya usut, staf masih melakukan input data pasien secara manual.

Dikutip dari dw.com, “Melaporkan kasus COVID-19 dengan tulisan tangan? Bahkan dengan COVID-19, kami menulis dengan tangan dan mengirim faks ”, bunyi cuitan dari salah seorang dokter spesialis pengobatan pernapasan Jepang. 

Saat banyak negara yang berlomba-lomba memakai teknologi yang contactless dan paperless untuk menekan penyebaran COVID-19, Jepang masih setia memakai cara-cara tradisional. Meskipun demikian, Profesor Tselichtchev dari Niigata University of Management tetap optimis bahwa budaya kerja Jepang akan segera berubah.  Pelan tapi pasti, generasi muda pekerja Jepang akan mulai nyaman menggunakan teknologi dan munculnya COVID-19 pun mempercepat proses ini. 

Sumber: dw.com

Browse blog by tag

Back To Top