sharpnel_content
6 Perusahaan Berikut Bangkrut karena Pandemi Covid-19

News 16 Mar 2022


6 Perusahaan Berikut Bangkrut karena Pandemi Covid-19

Share

Pandemi COVID19 sudah dua tahun melanda dunia. Krisis ekonomi semakin menjadi dan tak sedikit yang keok karenanya. Buktinya, 6 perusahaan berikut ini bangkrut akibat COVID19. Apa saja? Mari kita lihat daftarnya berikut ini:

(1) J. Crew

J. Crew adalah peritel mall yang terimbas pandemi COVID19 di tahun 2020. Tahun 2020 adalah tahun dimana pandemi COVID19 memukul keras perekonomian akibat dibatasinya pembukaan tempat-tempat umum, termasuk mall.

Para peritel di mal termasuk J. Crew adalah yang mendapat imbas terkeras. J. Crew juga tak mampu bersaing dengan peritel online yang semakin bersinar di kala pandemi berkat pemanfaatan teknologi digital.

Akhirnya J. Crew mengumumkan kebangkrutannya di bulan Mei dan berusaha mencari cara untuk membayar hutang 2 trilyun dollarnya. Seandainya J. Crew menemukan cara untuk menjalankan bisnis secara online, mungkin akan lain ceritanya, ya.

(2) Tailored Brands

Tailored Brands adalah peritel yang fokus pada pakaian pria, terutama untuk jenis pakaian yang memenuhi standar fashion ala karyawan kantoran. Sayangnya, pandemi COVID19 melahirkan work from home, dan mendadak semua karyawan bekerja dari rumah mereka dengan hanya menggunakan celana pendek atau celana tidur.

Akhirnya, Tailored Brands kehilangan banyak pelanggan yang jumlahnya cukup signifikan akibat orang-orang beralih dari celana khaki ke celana kolor. Celana kolor memang yang rasanya lebih nyaman untuk dipakai kerja di rumah.

Akibatnya, Tailored Brands tidak bisa bertahan dan mengumumkan kebangkrutannya di bulan Agustus. Mereka juga harus menutup sekitar 500 toko ritel mereka. Wah, coba kalau Tailored Brands pakai AI untuk tahu minat orang-orang, mungkin mereka bisa berinovasi dengan membuat produk yang sedang laku dijual, alih-alih bertahan dengan jualan celana kantoran.

(3) Hertz Global Holdings

Pandemi menurunkan jumlah orang yang bepergian. Jalanan menjadi sepi dan lengang bak tak ada kehidupan. Hertz yang merupakan perusahaan rental mobil mendapatkan pukulan keras akibat menurunnya mobilitas orang-orang.

Pembatasan bepergian terus berlanjut dan Hertz semakin menumpuk hutang. Akhirnya, Hertz mengumumkan kebangkrutannya di bulan Mei 2020.

(4) J.C. Penney

J.C. Penney adalah peritel yang sebelum ada pandemi pun sudah mati-matian membendung arus pembelanjaan online dari Amazon.com dan Walmart. Tapi nampaknya pandemi COVID19 menjadi paku terakhir di peti mati J.C. Penney.

Akhirnya, J.C. Penney pun mengumumkan kebangkrutannya di awal November 2020.

(5) Whiting Petroleum

Whiting Petroleum adalah produsen minyak yang sempat membeli sebagian besar lahan minyak Bakken beberapa tahun belakangan. Pembelian tersebut mengakibatkan Whiting Petroleum berhutang cukup besar yang sulit mereka bayar di akhir 2019.

Belum lagi pandemi COVID19 membuat perjalanan dibatasi hingga menurun drastis yang akhirnya ikut mempengaruhi penjualan bahan bakar. Kewajiban membayar hutang serta kondisi transportasi buruk akibat COVID19 adalah masalah besar bagi Whiting Petroleum.

Akhirnya mereka harus mengumumkan kebangkrutan di bulan April 2020.

(6) Chesapeake Energy

Chesapeake Energy juga merupakan perusahaan energi yang ikut bangkrut di tahun 2020. Kebangkrutan ini akibat jatuhnya harga minyak mentah per barrel yang sempat dihargai di bawah 0 dollar di bulan April 2020.

Chesapeake Energy yang jatuh akibat jatuhnya harga minyak mentah akhirnya tak mampu membayar hutang-hutangnya. Hingga kemudian mereka diminta mengumumkan kebangkrutan di bulan Juni 2020.

Itu dia 6 perusahaan yang bangkrut akibat pandemi COVID19. Kira-kira, kontribusi apa yang bisa diberikan teknologi digital untuk mencegah bisnis mengalami kebangkrutan dan bahkan bisa membawa kesuksesan besar untuk bisnis?

Referensi: money.usnews.com
Money photo created by freepik – www.freepik.com

Browse blog by tag

Back To Top