sharpnel_content
Programmer Mesti Tahu: Software Development Life Cycle (SDLC)

Blog 15 Okt 2020


Programmer Mesti Tahu: Software Development Life Cycle (SDLC)

Share

SDLC merupakan singkatan dari Software Development Life Cycle, kurang lebih artinya siklus hidup pengembangan perangkat lunak. Para web developer yang berkecimpung di dunia web/web system development maupun mobile application harusnya sudah faham mengenai SDLC ini karena berkaitan erat dengan pekerjaan yang dilakukan sehari-hari.

Perusahaan pengembang perangkat lunak manapun, umumnya akan menerapkan SDLC ketika mengerjakan proyek-proyeknya. SDLC seperti sebuah prinsipal yang sudah lumrah ada. Dengan menerapkan SDLC, pengembangan perangkat lunak bisa berjalan lebih efektif dan efisien.

Sesuai namanya, SDLC merupakan sebuah siklus sehingga tahapan-tahapan yang disebutkan di atas harus dilaksanakan secara berurutan. Penerapan SDLC dalam pengembangan proyek akan mempermudah tim dalam menghasilkan sistem berkualitas tinggi yang sesuai dengan harapan klien.

Tahapan-tahapan dalam SDLC

Dalam SDLC, sedikitnya ada enam tahapan yang mesti diketahui, yaitu:

1. Perencanaan (planning)

Tahap perencanaan merupakan tahapan mendasar dalam SDLC. Biasanya tahap perencanaan dilakukan oleh programmer senior. Dalam merencanakan proyek, tim akan memasukkan input dari klien, dari divisi sales, survey pasar, dan masukan dari pakar bila diperlukan.

Informasi yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk merencanakan pendekatan dasar untuk melakukan uji kelayakan dari segi ekonomi, operasional, dan area teknikal.

2. Menentukan Kebutuhan (Defining Requirements)

Di tahap ini, tim sudah harus memiliki analisis kebutuhan yang sudah terdokumentasi dengan baik. Kemudian tim harus mendapatkan persetujuan dari klien. Dokumen dalam tahap ini dinamakan SRS (Software Requirement Specification) yang berisikan seluruh kebutuhan produk/proyek yang akan didesain dan dikembangkan selama siklus.

3. Desain (Design)

Dokumen SRS merupakan referensi tertulis bagi tim arsitektur proyek, untuk bisa menghasilkan rancangan terbaik bagi proyek yang akan dikembangkan. Dari dokumen SRS, tim akan membuat DDS (Design Document  Specification) yang berisikan pendekatan desain untuk arsitektur produk/proyek.

DDS akan direview oleh semua pihak yang berkepentingan berdasarkan parameter-parameter seperti penilaian risiko, ketahanan produk, desain modularitas, anggaran dan waktu pengerjaan, serta desain terbaik yang dipilih.

4. Pengembangan (Development)

Dalam tahap ini, pengembangan atau pengerjaan proyek dimulai. Coding dilakukan berdasarkan DDS. Desain yang detail dan terorganisir dengan baik akan mempercepat proses coding.

Para programmer harus mengikuti panduan coding yang telah ditetapkan oleh perusahaan serta tools yang digunakan dalam proyek, seperti compiler, interpretes, debugger, dsb. Tahap pengembangan bisa memakan waktu lama, terutama bila terjadi kendala-kendala yang tidak diinginkan.

5. Tes dan Integrasi (testing and integration)

Ketika tahap pengembangan selesai, maka saatnya sistem memasuki tahap pengujian. Sistem harus diuji sebelum siap digunakan oleh klien. Pengujian atau testing berguna untuk mengetahui apakah sistem sudah bekerja optimal, apakah ada eror, atau apakah ada hal lain yang masih kurang.

Beberapa hal yang dites dalam tahap ini misalnya, kualitas code, tes fungsional, tes integrasi, tes performa, dan tes keamanan (security).

6. Deploy dan Perawatan (maintenance)

Setelah tahap pengujian selesai dan dipastikan sudah tidak ada kekurangan, maka selanjutnya adalah deploy dan maintenance. Pada tahap ini, produk sudah siap dirilis ke pasar atau ke klien. Dalam tahap ini, dilakukan juga perawatan atau maintenance.

Tahapan-tahapan dalam SDLC di atas hanyalah garis besarnya saja. Pada praktiknya, mungkin ada yang menerapkan SDLC hingga 7 bahkan 11 tahapan, itu tergantung masing-masing perusahaan.

Tapi, yang pasti SDLC akan selalu diterapkan dalam sebuah proses pengembangan produk/proyek karena manfaatnya yang besar. Jadi, apakah Anda sudah menerapkan SDLC dalam perusahaan Anda?

Referensi:

tutorialspoint.com

Sumber photo: Photo by Emile Perron on Unsplash

Browse blog by tag

Back To Top