sharpnel_content
Deretan Startup Ecommerce yang Tumbang karena Bakar Uang

Blog 23 Okt 2020


Deretan Startup Ecommerce yang Tumbang karena Bakar Uang

Share

Sudah menjadi rahasia umum bila startup yang mengembangkan produk sendiri harus rela ‘bakar uang’ agar bisa menjadi tenar. Startup-startup besar seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dsb dikenal melakukan praktik serupa untuk bisa sebesar sekarang.

Akan tetapi, kisah sukses startup yang melakukan ‘bakar uang’ di awal pendiriannya tak selalu berakhir manis. Ada juga startup yang harus tumbang karena tak kuat bakar uang. Di bawah ini kami rangkum deretan startup yang harus meninggalkan arena pertarungan teknologi digital karena kalah persaingan.

1. Rakuten

Rakuten merupakan ecommerce raksasa asal negeri sakura, Jepang. Ternyata, Rakuten pernah menginjakkan kaki di Indonesia melalui kerjasama antara Rakuten Japan (saham 51%) dan MNC Group (saham 49%). 

Sayangnya, di tengah perjalanan mengarungi pasar digital di Indonesia, Rakuten justru berkonflik dengan partner internalnya yaitu MNC Group. Penyebab lain kegagalan Rakuten yakni kurang memahami pasar lokal Indonesia dan terlalu berpatok pada prinsip-prinsip negeri asalnya. 

Selain itu, Rakuten juga tidak mampu bersaing melawan para kompetitor kuat seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dsb sehingga mereka harus menutup bisnisnya di tahun 2016.

2. STOQO

STOQO merupakan sebuah startup karya anak bangsa yang berfokus di bidang penjualan sembako khusus untuk para pengusaha kuliner kecil dan menengah (UKM). Startup ini didirikan oleh Aswin Andrinson pada tahun 2017. Sang co-founder, Aswin Andrinson mengatakan bahwa STOQO mengalami peningkatan 7 kali lipat di tahun 2019.

Akan tetapi, karena pandemi COVID19 membuat pendapatan STOQO menurun drastis. Maklum saja, pelanggan STOQO sebagian besar adalah pebisnis kuliner kecil dan menengah. Banyaknya tempat makan dan restoran yang tutup selama pandemi COVID19 berpengaruh ke STOQO. Akhirnya, STOQO harus menutup layanan di akhir April 2020 lalu.

3. Matahari Mall.com

Saat belanja online mulai booming, mungkin sebagian dari kita pernah berbelanja di salah satu ecommerce fashion terbesar tanah air, yaitu Mataharimall.com. Startup ecommerce fashion ini sempat mendominasi pasar. Tapi nyatanya itu tak bertahan lama, startup yang berdiri sejak tahun 2015 ini harus tutup di tahun 2018.

Mataharimall.com masih berada di bawah Lippo Group, raksasa bisnis tanah air. Akan tetapi karena kalah persaingan, akhirnya mataharimall.com harus rela tutup dan bergabung dengan matahari.com, sang induk. 

4. Blanja.com

Startup ecommerce yang juga tak mampu bersaing dan harus gulung tikar adalah blanja.com. Startup ini merupakan kolaborasi antara Telkom dan ebay. Tapi dua nama besar di belakang startup blanja.com ternyata tak mampu mendongkrak popularitasnya.

Akhirnya, Telkom terpaksa harus menutup Blanja.com di awal September 2020 ini. 

Itu dia deretan startup yang terpaksa harus tutup karena tak kuasa bakar uang demi bertahan di kerasnya persaingan startup ecommerce di Indonesia. Pasar startup ecommerce di Indonesia memang ketat karena ada sekitar 12 ecommerce atau marketplace ternama di Indonesia.

Jadi, apakah Anda tertarik untuk terjun ke pasar persaingan ecommerce? Sebagai konsultan IT, kami berpengalaman dalam membuat websystem termasuk ecommerce. Konsultasikan kebutuhan digitalisasi bisnis Anda ke tim IT kami dan segera raih kesuksesan memasuki dunia digital!

Referensi: CNBC Indonesia
Sumber photo: Business photo created by yanalya – www.freepik.com

Browse blog by tag

Back To Top