sharpnel_content
6 Perusahaan yang Bangkrut karena Digitalisasi

Blog 09 Jul 2020


6 Perusahaan yang Bangkrut karena Digitalisasi

Share

Tak ada yang menyangka jika brand sebesar Kodak yang merajai pasar fotografi pada tahun 90-an ini mengalami kebangkrutan. Meskipun Kodak adalah inisiator kamera digital, mereka tak melakukan inovasi secara maksimal. Alih-alih kamera digital, Kodak gagal move-on dari kamera analog yang menjadi anak emas perusahaannya. 

Berbeda dengan Kodak, perusahaan kamera di Asia seperti Canon dan Nikon melihat peluang dengan sigap! Mereka fokus meracik kamera digital dengan versi yang lebih baik dari buatan Kodak. Senjata makan tuan, gara-gara kamera digital yang diinisiasinya, Kodak harus menghadapi kebangkrutan. Pasalnya, masyarakat mulai tergila-gila dengan kamera digital yang lebih praktis dan mudah dioperasikan. Saat kebutuhan akan kamera digital tinggi, Kodak gigit jari.

Setelah melihat kegagalan Kodak dalam menyikapi digitalisasi, sudah seharusnya perusahaan lain mengambil banyak pelajaran. Sayangnya, sejarah ini kembali terulang di beberapa perusahaan besar lain yang lagi-lagi bangkrut karena digitalisasi. Sebut saja Disc Tarra, Pebble, Toys R Us, Nokia, dan lainnya. 

Kami pun merangkum enam kisah kebangkrutan perusahaan raksasa karena digitalisasi. Dengan membaca kisah ini, semoga Anda menjadi lebih berani untuk segera melakukan transformasi digital di bisnis Anda!

Toys R Us: Tersingkir oleh E-commerce

Pada bulan September 2017, Toys R Us mengejutkan dunia dengan laporan pengajuan perlindungan akan kebangkrutan. Kala itu, perusahaan ritel mainan ini memiliki lebih dari 700 outlet di Amerika dan Inggris yang menunjukkan betapa besar jaringan penjualan perusahaan. Ironisnya, mereka harus menutup ratusan outlet ini karena dihajar habis-habisan oleh e-commerce di Amerika seperti Amazon dan Walmart. 

Lalu, apa yang salah dengan Toys R Us? Toys R Us gagal menangkap tren belanja online yang ditawarkan oleh e-commerce. Orang-orang tak lagi belanja ke toko offline dan beralih ke situs e-commerce yang lebih praktis dan mudah. Anda tak perlu datang ke toko dan barang akan dikirim langsung ke depan pintu rumah Anda. Hal inilah yang gagal ditangkap oleh Toys R Us sehingga pelan tapi pasti kehilangan pelanggannya. 

Andai saja Toys R Us segera beralih ke toko online kala itu, mungkin saja mereka tak perlu merumahkan 33 ribu karyawannya tanpa pesangon. Namun, nasi telah menjadi bubur. Setelah sempat mati suri, Toys R Us berusaha bangkit dengan membuka outlet di Amerika pada tahun 2019 dan penjualan online di Target Corp. 

Nokia: Ponsel dengan Minim Inovasi 

Ada masanya, ponsel Nokia memberikan nilai prestige pada si pemakainya. Brand ini sempat mengenyam masa kejayaan dan memiliki citra eksklusif di mata masyarakat. Namun, kondisi ini berubah 180 derajat saat Samsung dan iPhone hadir dengan teknologi yang lebih canggih. 

Saat Samsung fokus pada Android dan iPhone dengan iOS, Nokia tetap setia dengan Symbian. Hal inilah yang membuat Nokia kehilangan daya saing di pasaran. Pasalnya, ponsel Nokia hanya memiliki fitur sederhana yang kalah jauh dengan kompetitornya.  

Mereka pun berusaha mengejar ketinggalan dengan memakai sistem yang baru. Bukannya mengadopsi Android yang sedang populer kala itu, Nokia mengutamakan pride-nya dengan memilih Windows Phone. 

Keputusan gegabah ini menyebabkan produk Nokia tidak laku di pasaran dan pailit. Sampai-sampai, wartawan Finlandia menyebut CEO yang memutuskan pemakaian Windows Phone yaitu Stephen Elop sebagai CEO terburuk Nokia!

Disc Tarra: Tak Berekspansi ke Media Digital 

Tahun 2016 menjadi tahun terburuk bagi pencinta dan penikmat musik di Indonesia. Perusahaan yang menjual CD, VCD, dan DVD asal Indonesia, Disc Tarra mengumumkan penutupan 100 outlet-nya. Masuknya media digital ke Indonesia akhirnya memakan korban.  

Tumbangnya perusahaan ini menjadi tamparan keras bagi industri musik fisik di Indonesia. Masyarakat sudah tidak lagi memiliki obsesi pada kepemilikan CD, tetapi lebih suka mengunduh lagu di internet atau streaming. Mereka bisa mendengarkan musik kapan saja dan di mana saja tanpa harus membawa CD. Alhasil, penjualan CD dan DVD di Disc Tarra menyusut dalam lima tahun terakhir.

Sayang sekali, Disc Tarra tidak memiliki rencana untuk berekspansi ke bisnis digital sehingga akhirnya harus menutup toko CD mereka selama-lamanya. 

Payless: Biaya Operasional Tinggi dan Lilitan Utang

Apakah Anda pelanggan tetap peritel sepatu diskonan Payless? Payless telah menutup 2,500 tokonya di Amerika Utara tahun 2019 lalu. Perusahaan yang sudah eksis sejak tahun 1956 ini harus bertarung dengan e-commerce yang kian berkembang di Amerika. 

Sebelum menutup tokonya, Payless sudah mengajukan surat perlindungan utang pada tahun 2017. Namun, selama dua tahun berselang, Payless tetap kesulitan untuk membayar utang-utangnya dan biaya operasionalnya tetap tinggi. Pilihan sulit akhirnya dipilih dengan menutup ribuan toko dan merumahkan 16 ribu karyawannya.

Salah satu rahasia kesuksesan e-commerce adalah mereka bisa memangkas biaya operasional dengan mengadopsi teknologi transformasi digital. Sementara itu, toko offline membutuhkan biaya operasional yang tinggi agar bisa beroperasi secara maksimal. 

Menariknya, Payless berhasil menyelamatkan 700 tokonya dari kebangkrutan. Ratusan toko yang berada di Asia, Amerika, dan Timur Tengah ini berhasil selamat karena Payless melakukan tindakan yang cepat dan inovasi. Sementara itu, Payless Indonesia tidak terdampak sama sekali dan masih beroperasi seperti biasa. 

Myspace: Tumbal Kesuksesan Facebook CS

Tahukah Anda bahwa sebelum ketenaran Facebook CS (Twitter dan Youtube), Amerika sudah memiliki platform media sosial Myspace? Berbeda dengan Facebook yang bisa mengakomodasi semua kalangan, Myspace terbatas untuk pencinta musik dan entertainment saja. Para musisi dapat memanfaatkan Myspace untuk mempromosikan karya mereka. 

Karena layanannya yang terbatas ini, Myspace digilas habis-habisan oleh kehadiran platform media sosial Mark Zuckerberg. Melihat cakupannya yang sempit, masyarakat pun bermigrasi ke Facebook dan Twitter. Myspace akhirnya ditinggalkan oleh pelanggannya dan dijual pada tahun 2011. 

Namun, alasan utama dari kegagalan Myspace adalah ketidakmampuan Myspace untuk mengorganisasi dan mengembangkan produknya. Saat itu, Facebook sudah mulai memprioritaskan space untuk bisnis online yang mulai berkembang. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Myspace. 

Pebble: Tak Mengadopsi Teknologi Layar Sentuh 

Meski sempat dapat suntikan dana gila-gilaan dari Kickstarter, Pebble harus harus tumbang di tangan pesaing-pesaingnya. Pebble merupakan perusahaan yang memproduksi smartwatch. Tak sekadar smartwatch, tetapi produk ini dapat digunakan untuk iOS dan Android. Selain itu, produk ini juga memiliki baterai dengan daya tahan yang tinggi. 

Pada saat proses pengembangan smartwatch generasi kedua, Pebble juga terus berbenah. Sayangnya, Pebble gagal melihat tren layar sentuh yang lebih dulu dibidik oleh Apple Watch. Selain itu, pasar produk wearable juga masih belum stabil dan cenderung lesu kala itu. 

Pebble pun akhirnya harus menghadapi kebangkrutan di bawah dominasi Apple dan Fitbit yang merilis smartwatch dengan layar sentuh dan teknologi termutakhir! Pada tahun 2016, Pebble diakuisisi secara penuh oleh Fitbit. CEO Pebble, Eric Migicovsky memutuskan kembali ke Y Combinator dan tak bergabung ke Fitbit. Siapa sangka, perusahaan yang sempat menjual hingga dua juta unit smartwatch ini berakhir dengan dibeli pesaingnya. 

Dengan mengetahui sejarah kebangkrutan perusahaan besar di atas, kita bisa berusaha agar tidak mengalami hal yang sama. Jangan sampai sejarah kebangkrutan ini kembali terulang karena tidak menanggapi revolusi digital dengan tepat dan sigap. Seperti kata Georg Wilhelm Friedrich Hegel, “The only thing we learn from history is that we learn nothing from history”.

Jika Anda masih bimbang teknologi atau sistem apa yang harus diadopsi di bisnis Anda, silakan menghubungi konsultan IT kami. Tim kami sudah melayani lebih dari seratus perusahaan Jepang dan memiliki pengalaman lebih dari tujuh tahun! 

 

Browse blog by tag

Back To Top